BANDUNG / Galuh Pakuan Nusantara.com — Toni Setiawan, selaku Ketua Dewan Pembina Koperasi Salawe Jajar Bumi Pasundan beserta seluruh keluarga besar, menyatakan dukungan sepenuhnya terhadap langkah strategis yang didorong Ahmad Heryawan — Ketua Badan Aspirasi Masyarakat (BAM) DPR RI, mantan Gubernur Jawa Barat, serta tokoh dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) — untuk membentuk badan pengelola khusus komoditas kopi nasional guna memperkokoh daya saing dan memperluas pasar ekspor, khususnya di wilayah Jawa Barat.
Pernyataan resmi ini disampaikan Toni Setiawan dalam pertemuan pada kegiatan Festival Aspirasi BAM DPR RI bertema "Kopi sebagai Tanaman Pangan, Tanaman Konservasi, dan Tanaman Industri" yang digelar di Bandung pada Minggu, 19 Juli 2026, lalu dikonfirmasi kembali kepada awak media di Hotel Onos, Rabu, 9 September 2026.
Toni Setiawan menegaskan, gagasan pembentukan badan pengelola kopi yang disuarakan Ahmad Heryawan sejalan sepenuhnya dengan visi dan misi Koperasi Salawe Jajar Bumi Pasundan yang dipimpinnya — yaitu memajukan komoditas unggulan rakyat agar tidak hanya bertahan di tingkat produksi, tetapi mampu naik ke panggung pasar internasional.
"Indonesia memiliki potensi luar biasa sebagai negara penghasil kopi. Namun kekayaan ini perlu ditopang tata kelola yang baik hingga ke pemasaran internasional, agar manfaat ekonominya benar-benar dirasakan langsung oleh masyarakat," ujar Toni Setiawan.
Pentingnya Badan Pengelola Khusus Kopi
Menurut Toni Setiawan, kehadiran lembaga khusus pengelola kopi sangat mendesak. Saat ini salah satu kendala utama di sektor hilir adalah ketidakstabilan harga serta kesulitan memenuhi standar internasional. Ekspor kopi mensyaratkan kualitas ketat — mulai dari kebersihan, proses pengolahan, hingga jaminan kualitas yang konsisten. Tanpa pendampingan dan lembaga yang mengoordinasikan secara menyeluruh, petani dan pelaku usaha kecil akan kesulitan menembus pasar luar negeri.
"Perlu ada semacam badan kopi yang mengelola komoditas ini sehingga layak menjadi produk ekspor. Tentu ini memerlukan bimbingan, karena negara lain punya persyaratan ketat, termasuk soal higienitas dan standar kualitas. Pengelolaan kopi tidak bisa dilakukan terpisah-pisah; negara harus hadir dari hulu hingga ke hilir," tegas Toni Setiawan.
Dengan adanya badan khusus tersebut, pengelolaan kopi akan dipermudah secara menyeluruh — dari pembinaan, peningkatan kualitas, hingga pembukaan akses pasar internasional. Hasil akhirnya adalah kesejahteraan petani yang meningkat secara nyata.
Ekosistem Kopi Utuh dari Hulu ke Hilir
Toni Setiawan menekankan, pengembangan perkopian nasional tidak bisa bersifat parsial, melainkan harus mencakup seluruh rantai nilai:
Sektor Hulu — Bibit Unggul & Pendampingan Petani
Kualitas dimulai dari benih. Selama ini banyak petani membibit sendiri tanpa sertifikasi, sehingga hasilnya tidak konsisten. Pemerintah perlu menjamin ketersediaan bibit kopi unggul bersertifikat, serta memastikan ketersediaan pupuk dan pendampingan teknis layaknya komoditas pangan lainnya.
Sektor Tengah — Pengolahan & Nilai Tambah
Petani tidak boleh hanya menjual buah kopi mentah. Diperlukan pelatihan pengolahan dan bantuan peralatan agar kopi yang dipanen bisa diolah lebih lanjut. Dengan demikian, nilai jual produk meningkat dan keuntungan tidak hanya dinikmati pihak lain.
Sektor Hilir — SDM Berkualitas & Pasar Luar Negeri
Peningkatan kualitas sumber daya manusia juga sangat krusial, terutama pembentukan tenaga ahli pengolah kopi (roaster) dan penyaji kopi (barista) yang profesional. Toni Setiawan menyambut baik adanya program beasiswa dan pendidikan khusus perkopian, karena hal ini membuka lapangan kerja sekaligus memperkuat citra kopi Indonesia di mata dunia.
Harapan: Kopi Indonesia Berkualitas, Sejahterakan Rakyat
Di akhir pernyataannya, Toni Setiawan — selaku Ketua Dewan Pembina Koperasi Salawe Jajar Bumi Pasundan — berharap pemerintah terus memperkuat ekosistem perkopian secara utuh. Kopi Indonesia tidak boleh sekadar unggul dalam jumlah produksi, melainkan harus memiliki nilai tambah tinggi melalui pengolahan modern, pemasaran luas, dan sumber daya manusia yang kompeten.
"Negara hadir demi menghadirkan kopi berkualitas dari hulu sampai ke hilir, dan dampaknya akan terasa pada kesejahteraan masyarakat luas," pungkas Toni Setiawan.
Rilis: Jupri
Komentar
